








News
Riset group PSE ikuti Mini Expo di LPPM Jakarta
7 Desember 2011 - 20:09
Perubahan paradigma UGM menjadi universitas riset berkelas dunia tidak hanya memberikan perubahan paradigma, kinerja dan pengelolaan universitas beserta seluruh stafnya, tetapi juga memberikan perubahan yang signifikan dalam peningkatan mutu dan pengelolaan riset dengan meningkatkan kolaborasi riset antara peneliti, industri dan masyarakat.
Dalam upaya meningkatkan kerjasama dengan industri dan masyarakat luas, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UGM melalui kantor perwakilan Jakarta memperkenalkan serta menawarkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen maupun peneliti di UGM melalui event Mini Expo Hasil Riset Industri dengan tema “Kemandirian Bangsa Berbasis Riset Perguruan Tinggi dan Industri” di UGM Kampus Jakarta, Tower B, Lt. 9, Jl. Dr. Saharjo No. 83, Tebet, Jakarta Selatan pada hari Rabu, 28 September 2011 kemarin.
Mini Expo dibuka secara langsung oleh Sekretaris LPPM UGM, Dr. drh. Wisnu Nurcahyo. Dikatakan bahwa kegiatan yang dihadiri tidak kurang dari 40 peserta dari kalangan industri dan perusahaan terkait, dinas-dinas pemerintah daerah, balai penelitian serta media massa ini bertujuan menghasilkan diseminasi hasil-hasil penelitian di bidang Sains teknologi, Agro, Kesehatan dan Kedokteran dari UGM kepada para stakeholders sehingga dapat memberikan gambaran secara aktual produk penelitian terkini yang sedang berkembang.
Mini expo ini terbagi menjadi 3 forum diskusi paralel terfokus dengan tema klaster penelitian (Sainstek, Agro Kesehatan dan Kedokteran) menghadirkan para peneliti terbaiknya sebagai Narasumber sekaligus penanggung jawab penelitian dari tiap-tiap klaster penelitian yaitu dari klaster Agro: Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA dan Ir. Bambang Suhartanto, DEA, klaster Kesehatan dan Kedokteran : Dr. Suyitno, ST., M.Sc., dr. Puntodewo, SpOT., M.Kes., FICS; Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si, dan Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si. Sementara itu, dari klaster Sains Teknologi : Prof. Dr.Eng. Ir. Arief Budiman, MS.
Dalam presentasinya didepan mitra industri, Arief Budiman menawarkan konsep teknologi energi terbarukan yang ramah lingkungan, yaitu Eco-efficient green diesel plant dan Eco-process biodiesel-bioadditive plant. Eci-efficient greendiesel plant merupakan pabrik yang mengintegrasikan produk biodiesel generasi pertama dan kedua. Pabrik biodiesel yang berbahan baku minyak nabati, akan menghasilkan produk samping berupa gliserol. Produk samping ini, selanjutnya diubah dengan proses reforming untuk menghasilkan gas hidrogen. Selanjutnya gas hidrogen ini akan direaksikan dengan minyak nabati untuk menghasilkan green diesel. Jadi secara keseluruhan, pabrik ini tidak menghasilkan limbah sedikitpun, imbuh Arief.
Ditambahkan oleh Arief Budiman bahwa alternatif lain untuk mengolah produk samping gliserol adalah dengan mengubah gliserol tersebut menjadi bioaditif. Bahan ini sangat berguna untuk menaikkan angka oktan. Seandainya premium yang kita beli di SPBU ditambahkan dengan bioaditif ini, maka premium tersebut performanya akan naik seperti pertamax. Acara Mini Expo Hasil Riset Industri selama sehari di UGM kampus Jakarta ini kemudian di lanjutkan dengan expo terbuka berupa pameran produk-produk riset unggulan layak bisnis.
Kemampuan Merancang Pabrik Kompetensi Utama Seorang Ahli Teknik…
4 Oktober 2011 - 09:50
Sudah Saatnya Pemerintah Dorong Sektor Industri Menuju Green…
14 April 2011 - 13:25
Gejala pemanasan global seperti terjadinya iklim yang tidak stabil, peningkatan permukaan air laut, gangguan ekologis dan peningkatan suhu global telah mulai kita rasakan. Bahkan sudah tidak menjadi rahasia umum lagi, betapa setiap tahun laju deforestasi atau penggundulan hutan selalu meningkat, sehingga total tutupan hutan sebagai penyangga kesinambungan ekosistem terganggu. Akibatnya, akan timbul perubahan iklim dan bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Belum lagi, kenyataan bahwa buangan gas emisi kendaraan bermotor, rumah tangga dan pabrik mempunyai andil besar menjadikan bumi ini semakin panas. Demikian disampaikan Prof. Arief Budiman, M.S., D.Eng, Peneliti yang juga Koordinator Process System Engineering Research group UGM (11/4/2011).
Perum Perhutani Segera Dirikan Industri Derivat Gondorukem dan…
6 April 2011 - 10:25
Akibat kegiatan pengelolaan hutan berbasis produk kayu, laju berkurangnya hutan di Indonesia mencapai 2,8 juta hektar per tahun dari total luas 120 juta hektar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dari total luas tersebut, sekitar 60 juta hektar atau 50% nya sudah mengalami degradasi dan kerusakan. Kondisi inilah yang memicu Perum Perhutani untuk segera mendirikan industri derivat gondorukem dan terpentin, ungkap Ir. Achmad Fachrodji Direktur Industri dan Pemasaran Perum Perhutani dalam Focus Group Discussion (FGD) Pembangunan Industri Gondorukem dan Terpentin di Perum Perhutani Unit 1, Jawa Tengah, belum lama ini (29/3/2011). “Apalagi semua produk derivat gondorukem dan terpentin sangat laku keras di pasara dunia. Gliserol rosin ester, misalnya, saat ini semua produk yang dihasilkan dari industri gondorukem pasti diserap pasar”, kata Fachrodji.